Sunday, October 19, 2008

adekku

Assalamualaikum guys? How’s everythin g??? Just well???
Hmmm… kalau kamu ngerasa imni penting dibaca yah baca aja ya??? Kalau enggak ya enggak usah… ntar tambah minus lo…. Ehhehe enggak ding…
Oia… coba deh amati sekitar mu duduk… ada apa di sampingmu? Ada orang? Ada tembok atau ada lemari. Kalau ada orang, berarti kamu lagi sama orang yang spesial buat mu ya kan??? Kalau ada tembok, berarti kemungkinan kamu lagi di warnet kecil, coz biasanya warnet itu pake kayu-kayu gitu pembatas antar bonya. Ya kan??
Mmm. sebenernya aku maw cerita soal sesuatu sih… nyebelinnya adekku yang lagi TK.
Gini,,, adekku itu kan laki-laki, dia pengen ikutan sholat. Nah, waktu itu, sang mentari yang tanpa lelah menghangatkan bumi seharian itu (ya, emang ga Cuma bumi doang sih yang dia hangatkan…) telah kembali ke peraduannya, langit perlahan menutup matanya dan menjadi semu lembabayung abu-abu gitu, semua serba mengambang antara sore dan malam. Memang , senja kan masa transisi antara sore dan malam.
Aku sekarang lagi mikir nih… kalau manusia kan, masa transisi tu masa remaja, Nah, kalau usai senja kenapa bukan usia remaja ya? Tapi malah usia tua. Jadi ga kompatibel gitu (ga cocok maksudnya, abz tadi kelasku ada pelajaran TIK sih… mbahas kemnapa Linux ga selalu kompatibel sama berbagai program / software.)
Nah,,, begitulah, angin yang dingin menyeruak halus dan pelan menerpa poniku.. di senja itu. (emang aku punya poni?)
MMMMM….. sebenernya aku Cuma mau bilang kalau waktu itu tuh waktu Shalat Maghrib. Hehehe…
Aku jelasin dulu susunan tempat kami (aku, adek cowokku, adek cewekku, sama ibuku) Ibuku di depan, trus palingkiri adek cowokku yang TK, aku, trus, adekku yang cewek paling kanan. Kami sholat seperti biasa. Aku saat itu mikir bahwa aku harus siap-siap nahan ketewa sekuat mungkin. Soalnya, ini keduakalinya adek ikut sholat. Dan kemaren dia mbuat aku ketawa karena sia …. Well, kronologi yang kemaren gini. Adwaktu kami solat tiba-tiba ada s ms masuk . nada itu rekaman aku teriak aaaaaaa panjang. Adekku waktu solat niruin gitu. Aku jadi setengah mati nahan ketawa.
Nah… sholat kedua adalah yang mw aku ceritain ini. Nyebelin banget pokoknya. Sampai aku harus kehilangan dua rakaata gara-gara batal gara-gara ketawa. (kok banyak kata “gara-gara” nya ya? Siapa yang nge-fans ma Gaara nih?)
Ikuti cerita eselengkapnya.a jfklfjsholat pun terus berjalan sampai akhirnya kami takhiy awal. Aku duduk. Lalu telunjukku kuacugkan gitu. Ketutupan mukena sih… Nah,,, tanpa aku duga-duga sebelumnyya. Adekku tu ngeliat ke tanganku yang sebelah kanan. Dan tiba-tiba atau suddenly, dia , makdudku tangan kanannya dia tu nyari-nyari telunjuk tangan kananku gitu. Setelah dapet, dia menyet-menyet (menyet : 1 nyentuh sambil nekan, 2. sejenis kera) teujung telunjukku. Kalau boleh ada bunyinya, adalah “ Tuing-Tuing=Tuing gitu”
Ya udah deh. Adek cewekku nyekikik gitu, trus nyekakak juga akhirnya mpe berguling gitu. Ikutan ketawa juga deh aku. Ikz hikz
Batal.
“Dek, kamu ga usah ikut sholat aja sana!!” kataku sambil nahan marah plus nahan ketawa.) Geli banget aku. Aku mikir juga bahwa saat iru dia pasti penasaran apa kah telunjukku ngacng apa ga. Dia mungkin ga yakin mau ngacungin telunjuknya dia apa ga gitu. Trus buat ngeyakinin diri, dia cari-cari telunjukku yang ketutupan mukena itu dengan cara nekan-nekan “Tuing=Ting”.
Bwahaha…
Namanya juga anak-anak.
Posted by Anisah in 05:44:48 | Permalink | Comments (1) »

cobaan hidup

mmm. kali ini aku maw cerita waktu aku mendapat cobaan hidup yang begitu berat dan menegangkan, surprised buanget deh pokoknya. Benar-benar cobaan yang membuatku terpana .Yah, itulah badai dalam hidupku yang membuat ku begitu terkejut. Itu berkaitan dengan amanah yang saat itu aku emban, tugas yang saat itu aku jalankan, dan kepercayaan yang saat itu sepenuhnya di letakkan di punggungku. Aku sebagai tulang punggung … siapa ya? Mmm tulang punggung diriku sendirilah.
Ya.!!! Tugas itu adalah… Amanah itu adalah…. (nama temenku) Kepercayaan itu adalah:
“”””””Cuci PIRING!!!!!!””””
Aku uraikan dulu latar tempat pada saat cerita ini berlangsung, okay? Well,,, eh, tunggu, mmmm maksudku latar waktu ding! Hahaha…
Well, ketika itu… malam telah mati, aku tak tahu dan tak peduli apakah bintang bersinar atau tidak, mendung menutup atau tidak, bulan purnama atau tidak. Yang paling membekas adalah … saat itu jarum panjang jam dinding biru di ruang santai menohok angka 3. dan… tahukah kau berapa angka , maksudku angka berapa yang ditohok sang jarum pendek?? Ya, di angka 9 lebih sedikit. 9.15 malam. That’s all. Bukankah itu malam yang terlalu mati untuk anak seusia 16 tahun mencuci piring? Terlalu larut bukan? Ya, itulah tugsku itulah kepercayaaan yang diberikan padaku, itulah amanah yang dipikulkan padaku. Tugas itu seharusnya aku mkerjakan soretadi. Tapi dasar mungkin aku lagi ingin menundanya.
Semua anggota keluargaku telah melemaskan diri, meletakkan tubuh dan tulangnya di alam kasur eh alam seprei yang begitu empuk dan nyaman. Aku tahu, saat itu ibuku sedang menidurkan adek kecilku. Dan suatu saat dia bisa saja bangun untuk gosok gigi karena itu belum dilakukannya.

Dengan asyiknya da;am kesendirian aku cuci piring-piring, gelas, sendok, mangkok, cangkir, dan lain-lain. Kusenandungkan kidung “Laskar Pelangi” Namun yang kuhapal hanya bagian:
“Menarilah dan terus tertawa, walau dunia tak seindah surga, bersyukurlah pada yang kuasa ,cinta kita di dunia, selamanya”
Itupun kata”walau” kadang-kadang aku ganti dengan kata”meski” hahaha…
10 menit pun berlalu tanpa terasa. Banyak air yang telah keluar dari keran wastafel. Kakiku masih terus menapak di palang kursi. Dan bukan menapak lantai. Akhirnya entah mendapat inspirasi dari siapa aku layang kan pandangan ku ke bawah, ke lantai.
Saat itulah serasa dunia berhenti berputar, jantung berhenti berputar, lampu berhenti menyala, atap rumah ku runtuh mengenai kepalaku. Mata tak mampu berkedip. Aku benar-benar terpesona deengan apa yang baru kulihat. Aku benar-benar terhanyut, terpana, terkejut tak terhingga, aku ikuti benda yang membuatku trpana itu dengan hati-hati, sampai rak piring, rlalu berbelok menuju rak sepatu, dan terakhir ke kamar mandi.
“Astagh firullah…”
Hanya iut yang keluar dari mullutku yang mungil ini saat itu. Laboriously tentu saja. benar-benar susah payah aku mengucapkannya. Aku bersyukur tak ada yang melihat hal besar ini. Namun sedetik kemudian aku segera khawatir jika ibuku bangun untuk gosok gigi dan pasti akan mengetahui semua ini.
Tidak!
Ini masalahku sendiri! Aku yan gakan mengatasinya, dan tak akan kubiarkan seorang pun tahu! Ini masalahku! Dan aku yang akan membereskannya! Dengan car apapun!
Kau tahu apa yang sebenarnya terjadi?? Yah, you know? Air dari wastafel kan pasti jatuh ke bawah dan masuk ke lubang wastafel yang di bawa. Nah… tanpa aku sangka dari tadi, ternyata, lubang di bawah itu TERTUTUP oleh banyak benda-benda misalnya, kulit lombok, sawi, bawang, atau yang lain-lainnya. Aku… aku tak mengira bahwa itu akan menimpaku malam itu. Seluruh air yang sudah 10 menit keluar dari keran ternyata tidak dapat masuk lubang ia mengalir sampai jauh…. Melewati bawah kursiku, lalu melewati bawah rak piring dan sekitarnya, lalu berbelok menuju bagian bagah rak sepatu dan sekitarnya, lalu hampir masuk kamar mandi, yah,,, kira-kira 3 meterlah…
Aku tahu ini cobaan hidup yang berat karena begitu mengagetkan ku. Setahuku tak ada yang lain yang pernah mengalami hal ini, ya kan?
Aku segera mengambil langkah.
Aku bersihkan lubang wastafel itu wastafel itu dengan sikat khusus agar aitr nya masuk ke situ, tentu saja aair yang sudah ada di lantai tak dapat balik ke situ. Air yang di bawah wastafel pun teratasi.
> aku ambibil pel . dan aku dua buah dan aku dorong aliran air itu masuk ke kamar mandi. Ya ,air itu setinggi 2 cm! lho… aku dorong dorong air itu dampai empat kali. Keluar masuk kamar mandi dan memeras pel-pe itu 4 kali juga kan?
> tetap sjaa ada bekas-bekas air masih becek. Aku ambil pel besar di belakan grumah. Lalu mengepelnya dengan tekun.
> tugas itu selesai dalam 5 menit. Kuteruskan mencuci pirign.
Aku setelah selesai, aku minum dan tidur.
Baru beberapa saat membaringkan tubuhaku dengat langkah kaki menuju dapur, tempat wastefel itu berada. Mudah-mudahan ibu tak menyadari lantai yang masih agak sedikit becek. Jiwakku masih terguncang…

Posted by Anisah in 05:41:52 | Permalink | No Comments »